puisi tentang sekolah sd
Sekolah Dasar, Jendela Dunia: Seribu Kata dalam Puisi
Sekolah dasar, tempat pertama kaki menapak bumi pendidikan. Di sanalah, benih-benih cita ditanam, disiram dengan ilmu, dan dipupuk dengan persahabatan. Lebih dari sekadar ruang kelas dan deretan bangku, sekolah dasar adalah panggung kehidupan mini, tempat drama anak-anak dimainkan dengan polos dan tulus. Mari kita selami keindahan, kegembiraan, dan bahkan kesedihan yang terukir di dinding-dinding sekolah dasar melalui serangkaian puisi yang menggambarkan beragam aspeknya.
I. Pagi di Gerbang Sekolah :
Matahari malu-malu mengintip dari balik awan,
Burung-burung berkicau, menyambut hari yang cerah.
Di gerbang sekolah, riuh suara anak-anak,
Seragam putih merah, semangat membara.
Langkah-langkah kecil bergegas maju,
Tas punggung berat, berisi buku dan mimpi.
Senyum merekah, menyapa teman sejati,
Lupakan sejenak, beban di pundak hati.
Ibu melambai, dari jauh, Doa dipanjatkan, semoga ilmunya diterima. Ayah berpesan, “Belajarlah yang giat nak,” Kata-kata bijak, terpatri dalam benak.
Gerbangnya terbuka, ramah, dunia baru terbentang, penuh warna dan cerita. Pagi di sekolah, awal perjalanan, Menuju masa depan, penuh harapan dan impian.
II. Ruang Kelas, Tempat Belajar dan Bermain:
Dinding berhias, gambar pahlawan bangsa,
Papan tulis hijau, saksi bisu ilmu pengetahuan.
Bangku dan meja, tertata dengan rapi,
Menunggu murid-murid, dengan hati berani.
Di ruang kelas, guru berdiri tegap,
Suara lantang, menjelaskan dengan sabar.
Huruf dan angka, menari di papan tulis,
Menantang otak, untuk berpikir kritis.
Buku-buku terbuka, halaman demi halaman,
Membuka jendela dunia, pengetahuan tak terbatas.
Pena menari, di atas kertas putih,
Menulis cerita, mengukir mimpi yang terpilih.
Namun, di ruang kelas, bukan hanya belajar,
Ada tawa riang, ada canda dan gurau.
Saat istirahat, halaman sekolah ramai,
Bermain dan berlari, melepas lelah di hati.
Ruang kelas, tempat belajar dan bermain, Tempat menjalin persahabatan, tanpa merasa lelah. Kenangan indah yang terukir di setiap sudut tak akan pernah terlupakan, hingga akhir hayat.
III. Guru, Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa:
Guru, sosok mulia, tanpa pamrih berjuang,
Membimbing dan mengarahkan, dengan kasih sayang.
Ilmu dibagikan, tanpa mengharap balasan,
Hanya ingin melihat, murid-murid berprestasi gemilang.
Senyumnya tulus, menyambut setiap murid,
Sabar menghadapi, kenakalan dan keluhan.
Kata-katanya bijak, menenangkan hati,
Memberi semangat, untuk terus berjuang.
Guru bukan hanya pengajar, tapi juga pendidik,
Membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai luhur.
Disiplin diajarkan, tanggung jawab ditanamkan,
Agar menjadi insan, berguna bagi nusa dan bangsa.
Jasa guru tak terhingga, tak dapat diukur,
Pengorbanannya besar, takkan pernah terlupakan.
Terima kasih guru, atas segala pengabdianmu,
Engkau adalah pahlawan, di hati kami selalu.
IV. Istirahat, Saatnya Melepas Lelah:
Bel berdering nyaring, tanda istirahat tiba,
Murid-murid berhamburan, keluar dari kelas.
Halaman sekolah ramai, penuh warna dan suara,
Tawa riang menggema, menghilangkan rasa lelah.
Bermain kejar-kejaran, di bawah terik matahari,
Berayun tinggi, merasakan angin sepoi-sepoi.
Berbagi bekal, dengan teman-teman sejati,
Saling bercerita, tentang mimpi dan cita-cita.
Ada yang bermain kelereng, ada yang bermain lompat tali,
Ada yang membaca buku, di bawah rindangnya pohon.
Istirahat adalah waktu, untuk melepas penat,
Mengisi energi, untuk belajar kembali.
Namun, istirahat juga waktu, untuk belajar bersosialisasi,
Berinteraksi dengan teman, tanpa memandang perbedaan.
Menghargai pendapat, dan saling menghormati,
Membangun persahabatan, yang abadi selamanya.
V. Ujian, Tantangan yang Harus Dihadapi:
Ujian tiba, jantung berdebar kencang,
Soal-soal terbentang, di depan mata.
Pena di genggaman, terasa berat dan gemetar,
Namun semangat membara, takkan pernah menyerah.
Berpikir keras, mencoba mengingat,
Semua yang diajarkan, oleh guru tercinta.
Rumus-rumus terbayang, dalam benak kepala,
Jawaban dicari, dengan penuh usaha.
Waktu terus berjalan, semakin mendesak, Konsentrasi penuh, tak dapat diganggu. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan hati-hati, Berharap hasil terbaik akan tercapai nantinya.
Ujian bukan hanya menguji kemampuan,
Tapi juga menguji kesabaran dan ketekunan.
Hadapi dengan tenang, dan percaya diri,
Karena usaha keras, takkan pernah mengkhianati.
VI. Perpisahan, Saatnya Berpisah dan Melangkah:
Waktu berlalu, tak terasa begitu cepat,
Enam tahun berlalu, di sekolah tercinta.
Kini saatnya berpisah, dengan teman dan guru,
Meninggalkan kenangan, yang takkan terlupa.
Air mata menetes, membasahi pipi,
Rasa sedih bercampur, dengan rasa haru.
Namun, perpisahan bukan akhir segalanya,
Tapi awal dari perjalanan, yang lebih panjang.
Ucapan terima kasih, terucap dari hati,
Kepada guru-guru, yang telah membimbing kami.
Semoga ilmu yang diberikan, bermanfaat selalu,
Menjadi bekal berharga, di masa depan nanti.
Janji terucap, untuk tetap menjaga silaturahmi,
Walaupun jarak memisahkan, hati tetap menyatu.
Sekolah dasar, akan selalu dikenang,
Sebagai tempat pertama, menggapai cita dan impian.
VII. Sekolahku Rumah Kedua:
Sekolahku, bukan sekadar bangunan,
Tembok dan atap, bukan hanya tumpuan.
Di sini kutemukan, hangatnya persahabatan,
Kasih sayang guru, tak terhingga batasan.
Rumah kedua, tempatku belajar dan bermain,
Menemukan jati diri, di tengah bisingnya dunia.
Di sini kutemukan, mimpi dan harapan,
Menuju masa depan, penuh keberanian.
Setiap sudut sekolah, menyimpan kenangan,
Tawa dan tangis, suka dan duka.
Bersama teman-teman, kita ukir cerita,
Yang takkan terlupakan, selamanya.
Sekolahku, rumah kedua yang kurindukan,
Tempatku tumbuh dan berkembang.
Terima kasih sekolahku, atas segala jasamu,
Engkau akan selalu, di hatiku.
VIII. Cita-Citaku:
Di sekolah dasar, aku bermimpi,
Menjadi dokter, guru, atau insinyur.
Cita-cita tinggi, melambung ke langit,
Semangat membara, takkan pernah luntur.
Rajin belajar, adalah kunci utama, Kejar impian, dengan penuh usaha. Guru membimbing, dengan penuh kesabaran dan ketelitian, Membuka jalan, menuju cita-cita sejati.
Tak ada yang mustahil, jika kita berusaha,
Dengan doa dan kerja keras, semua bisa tercapai.
Sekolah dasar, adalah landasan awal,
Membangun masa depan, yang gemilang.
Cita-citaku adalah, baktiku pada negeri,
Membangun Indonesia, yang lebih baik lagi.
Semangat belajar, takkan pernah padam,
Demi mewujudkan mimpi, dan harapan.
Puisi-puisi ini hanyalah sebagian kecil dari seribu kata yang dapat menggambarkan keindahan dan makna sekolah dasar. Setiap anak memiliki pengalaman unik dan berharga di sekolahnya, yang akan terus membekas dalam ingatan sepanjang hayat. Sekolah dasar adalah jendela dunia, tempat kita pertama kali mengenal ilmu pengetahuan, persahabatan, dan arti sebuah perjuangan.

