sekolahpadang.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerita Pendek Tentang Sekolah: Potret Kehidupan di Balik Papan Tulis

1. Aroma Kapur dan Mimpi: Kisah di Ruang Kelas Delapan

Debu kapur menari-nari di udara, menciptakan aroma khas yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ruang kelas delapan. Di bangku paling belakang, duduklah Rina. Bukan karena nakal, tapi karena tinggi badannya menjulang di antara teman-temannya. Rina lebih suka mengamati. Bukan pelajaran, melainkan ekspresi wajah teman-temannya saat Bu Ani, guru matematika yang terkenal galak, menerangkan rumus-rumus yang baginya sama sekali tidak masuk akal.

Hari itu, Bu Ani memberikan tugas kelompok. Membuat model bangun ruang. Rina, yang biasanya hanya menjadi pengamat, tiba-tiba ditunjuk menjadi ketua kelompok. Anggota kelompoknya: Budi, si kutu buku yang selalu mendapat nilai sempurna; Sinta, si ratu drama yang selalu punya seribu satu alasan untuk tidak mengerjakan tugas; dan Tomi, si pembuat onar yang lebih tertarik menggambar di meja daripada mendengarkan penjelasan.

Rina menghela napas. Ini akan menjadi neraka.

Namun, di situlah keajaiban dimulai. Budi, dengan sabar, menjelaskan konsep bangun ruang kepada Sinta yang terus merengek. Tomi, ternyata memiliki bakat terpendam dalam bidang seni. Ia membuat sketsa model dengan detail yang menakjubkan. Rina, sebagai ketua, bertugas mengkoordinasi dan memastikan semua berjalan lancar.

Mereka berdebat, tertawa, bahkan sempat saling menyalahkan. Tapi, di balik semua itu, terjalin kerjasama yang tak terduga. Mereka saling melengkapi, menutupi kekurangan masing-masing, dan saling belajar.

Di hari pengumpulan tugas, model bangun ruang mereka, sebuah kubus besar yang terbuat dari kardus bekas, menjadi pusat perhatian. Bu Ani, yang biasanya pelit pujian, tersenyum tipis. “Kerja bagus,” katanya.

Rina tersenyum. Bukan hanya karena pujian Bu Ani, tapi karena ia telah belajar sesuatu yang lebih berharga dari sekadar rumus matematika: kekuatan kerjasama dan persahabatan. Aroma kapur di ruang kelas itu, kini terasa lebih manis dari biasanya.

2. Sepatu Butut dan Semangat Juang: Di Lapangan Basket Sekolah

Lapangan basket sekolah itu saksi bisu. Saksi bisu keringat, air mata, dan mimpi. Di sanalah Andi mengasah kemampuannya. Dengan sepatu butut yang sudah bolong di sana-sini, ia berlatih tanpa kenal lelah.

Andi bukan berasal dari keluarga berada. Ayahnya hanya seorang tukang becak, ibunya seorang buruh cuci. Uang sekolah saja sudah menjadi beban, apalagi untuk membeli sepatu basket baru.

Namun, keterbatasan itu tidak mematahkan semangatnya. Ia bermimpi menjadi pemain basket profesional, membawa keluarganya keluar dari kemiskinan. Setiap hari, setelah pulang sekolah, ia langsung menuju lapangan basket. Melatih dribbling, shooting, dan passing.

Ia sering menjadi bahan ejekan teman-temannya. “Lihat tuh, si Andi si sepatu bolong!” ejek mereka. Andi hanya tersenyum pahit. Ejekan itu justru menjadi motivasinya untuk berlatih lebih keras.

Suatu hari, sekolah mengadakan seleksi tim basket. Andi ikut serta, meskipun ia sadar, peluangnya sangat kecil. Banyak siswa yang memiliki sepatu basket bagus, postur tubuh ideal, dan pengalaman bermain yang lebih banyak.

Namun, Andi memberikan yang terbaik. Ia berlari secepat mungkin, melompat setinggi mungkin, dan menembak seakurat mungkin. Semangat juangnya mengalahkan segala keterbatasan.

Ajaibnya, Andi lolos seleksi. Ia terpilih menjadi salah satu anggota tim basket sekolah. Kebahagiaannya tak terlukiskan. Ini adalah langkah awal untuk mewujudkan mimpinya.

Sepatu butut itu, kini menjadi simbol perjuangannya. Simbol bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih mimpi. Di lapangan basket sekolah itu, Andi terus berlatih. Dengan semangat yang membara, ia berjuang untuk masa depannya.

3. Surat Cinta di Loker: Rahasia di Balik Pintu Besi

Loker sekolah. Tempat menyimpan buku, tas, dan segala macam rahasia. Di antara tumpukan buku pelajaran, terselip sebuah amplop berwarna merah muda. Sebuah surat cinta.

Penerima surat itu adalah Clara, siswi kelas sebelas yang cantik dan populer. Pengirimnya tidak diketahui. Surat itu ditulis dengan tinta biru, dengan kata-kata yang manis dan romantis.

Clara tersenyum membaca surat itu. Ia penasaran siapa pengirimnya. Ia memiliki banyak penggemar rahasia. Tapi, surat ini terasa berbeda. Ada sentuhan personal yang membuatnya penasaran.

Ia mulai mencari petunjuk. Ia memperhatikan teman-teman sekelasnya. Siapa yang sering menatapnya diam-diam? Siapa yang selalu berusaha mendekatinya?

Namun, ia tidak menemukan jawaban. Semua teman-temannya bersikap biasa saja. Ia mulai frustrasi. Ia ingin tahu siapa pengirim surat itu.

Suatu hari, saat ia sedang membuka lokernya, ia melihat secarik kertas kecil terjatuh. Kertas itu berisi puisi singkat. Puisi itu sangat indah, menggambarkan perasaan cinta yang mendalam.

Clara terkejut. Ia mengenali tulisan tangan itu. Itu adalah tulisan tangan Rian, teman sekelasnya yang pendiam dan pemalu. Rian selalu duduk di pojok kelas, jarang berbicara, tapi selalu memperhatikan Clara.

Clara tidak pernah menyangka Rian menyukainya. Ia selama ini hanya menganggap Rian sebagai teman biasa. Ia merasa bersalah karena tidak pernah menyadari perasaannya.

Ia mendekati Rian. Ia mengucapkan terima kasih atas surat cinta dan puisi yang indah. Rian tersipu malu. Ia mengakui bahwa ia memang menyukai Clara sejak lama.

Clara tersenyum. Ia merasa tersentuh dengan kejujuran Rian. Ia mengajak Rian untuk berbicara lebih banyak. Mereka mulai saling mengenal lebih dekat.

Di balik pintu besi loker sekolah itu, terungkap sebuah rahasia. Rahasia cinta yang tulus dan sederhana. Rahasia yang mengubah pandangan Clara terhadap Rian. Rahasia yang mungkin akan menjadi awal dari sebuah kisah cinta yang indah.

4. Buku Harian di Perpustakaan: Jendela Menuju Dunia Lain

Perpustakaan sekolah. Tempat yang sunyi dan tenang. Tempat yang penuh dengan buku-buku yang menyimpan jutaan cerita. Di sanalah Lia menemukan kedamaian.

Lia bukan siswi populer. Ia lebih suka menyendiri, membaca buku, dan menulis di buku hariannya. Buku harian itu adalah sahabatnya. Tempat ia mencurahkan segala perasaan, pikiran, dan mimpinya.

Di perpustakaan itu, ia menemukan buku-buku yang membawanya ke dunia lain. Dunia fantasi, dunia sejarah, dunia sains. Ia belajar banyak hal dari buku-buku itu. Ia menjadi lebih bijaksana, lebih berpengetahuan, dan lebih kreatif.

Suatu hari, ia menemukan sebuah buku harian tua di rak belakang perpustakaan. Buku harian itu milik seorang siswi yang bernama Maya, yang lulus dari sekolah itu puluhan tahun yang lalu.

Lia penasaran. Ia membuka buku harian itu dan mulai membacanya. Ia terkejut. Kisah Maya sangat mirip dengan kisahnya. Maya juga seorang siswi yang pendiam, suka membaca buku, dan menulis di buku hariannya.

Maya menceritakan tentang impiannya, cintanya, dan perjuangannya. Ia menceritakan tentang masa-masa sulit yang ia alami di sekolah. Ia menceritakan tentang bagaimana ia akhirnya berhasil meraih mimpinya.

Lia merasa terinspirasi oleh kisah Maya. Ia merasa bahwa ia tidak sendirian. Ada orang lain yang pernah merasakan hal yang sama dengannya. Ada orang lain yang berhasil melewati masa-masa sulit dan meraih mimpinya.

Ia menutup buku harian itu. Ia merasa lebih kuat dan lebih percaya diri. Ia tahu bahwa ia juga bisa meraih mimpinya. Ia akan terus membaca buku, menulis di buku hariannya, dan berjuang untuk masa depannya.

Buku harian di perpustakaan itu, menjadi jendela baginya. Jendela menuju dunia lain, dunia yang penuh dengan inspirasi dan harapan. Jendela yang membantunya menemukan jati dirinya.

5. Coretan di Dinding Toilet: Jeritan Hati yang Terpendam

Dinding toilet sekolah. Tempat yang kotor dan bau. Tempat yang penuh dengan coretan-coretan yang tidak jelas. Namun, di balik coretan-coretan itu, tersimpan jeritan hati yang terpendam.

Di salah satu dinding toilet, terdapat sebuah coretan yang berbunyi: “Aku benci sekolah ini!” Coretan itu ditulis dengan cat semprot berwarna merah.

Siapa yang menulis coretan itu? Apa yang membuatnya membenci sekolah ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benak seorang guru BK bernama Pak Budi.

Pak Budi merasa prihatin. Ia tahu bahwa ada siswa yang tidak bahagia di sekolah ini. Ada siswa yang merasa tertekan, terisolasi, dan tidak dihargai.

Ia berusaha mencari tahu siapa penulis coretan itu. Ia mewawancarai beberapa siswa. Ia menanyakan tentang perasaan mereka terhadap sekolah.

Akhirnya, ia menemukan jawabannya. Penulis coretan itu adalah seorang siswa bernama Doni. Doni adalah siswa yang pendiam dan pemalu. Ia sering menjadi korban bullying oleh teman-temannya.

Doni merasa tidak nyaman di sekolah